Pengolahan sampah organik menjadi kompos merupakan salah satu program kerja dari Bank Sampah Handarbeni SMK N 6 Yogyakarta dengan Kampus IST Akprind Yogyakarta. Banyaknya pepohonan di SMK N 6 Yogyakarta yang jatuh berserakan dan hanya langsung dibuang ke TPA, menandakan kekurangan pedulian warga sekolah untuk bisa mengolah limbah tersebut menjadi barang yang berguna dan memiliki nilai jual. Berdasarkan alasan tersebut, Bank Sampah Handarbeni, dibawah asuhan Ibu Kepala Sekolah dan Waka Sarpras berinisiatif untuk membuat Program Pengolahan Sampah Organik Menjadi Kompos . Dalam pelaksaanaan program ini juga melibatkan siswa dari tim lingkungan. Perwakilan siswa inilah yang kelak akan menjadi duta lingkungan sekolah untuk bisa menularkan ilmunya kepada teman-teman yang lain. Dengan demikian kelak para siswa dapat memperoleh tambahan kompetensi kewirausahaan tentang Pengolahan Sampah organik menjadi kompos.
Pelaksanaan pengolahan sampah oraganik di SMK Negeri 6 Yogyakarta diikuti oleh SMK Kelompok Pariwisata se DIY yang ingin turut berperan serta dalam pengelolaan sampah. Pengolahan Sampah Organik menjadi Kompos ini dilaksanakan melalui 2 tahapan: Sosialisasi Pengolahan Sampah Organik menjadi Kompos, Pengumpulan sampah coklat dan sampah hijau, Pengecekan peralatan dan bahan, Pembuatan aktivator dari urea, Pencacahan daun sebagai bahan utama pupuk, Pencampuran pupuk, dan Pengecekkan pasca pencampuran sampah.
Bank sampah bisa menjadi salah satu solusi terutama untuk sampah-sampah yang berasal dari lingkungan sekolah, sebuah program yang mengajak warga sekolah mulai sadar untuk memilah sampah organik dan non-organik. Nantinya hasil dari pengumpulan sampah yang sudah dipilah akan disetorkan langsung ke tempat pembuatan kerajinan untuk di daur ulang atau ke tempat pengepul sampah. Seluruh warga sekolah perlu saling bekerja sama dan berkontribusi untuk menangani masalah sampah, agar lingkungan sekolah lebih bersih dan nyaman. Konsep yang diusung oleh bank sampah sendiri juga memiliki manajemen, bukan uang yang ditabung melainkan sampah agar bisa lebih dikendalikan dengan baik.
Monitoring yang dilakukan adalah dengan melaporkan semua kegiatan di SMKN 6 Yogyakarta, yaitu:
1. Monitoring rutin Tim Bank Sampah Handarbeni. Pasca Pencampuran bahan –bahan, selama 4 hari, dilakukan pengadukan sampah yang berfungsi untuk mengecek kelembaban sampah. Apabila kelembaban kurang maka dilakukan penyemprotan air sambil terus diaduk. Setelah 4 hari, dilakukan penambahan bahan-bahan sampah berupa, sampah coklat ( daun-daun kering) dan sampah hijau ( dedaunan yang masih hijau) dengan perbandingan 3:1. 3 ember sampah coklat: 1 ember sampah hijau). Penambahan dilakukan setiap 3 hari sekali sampai volume tong penuh. Setelah penuh monitoring yang dilakukan hanyalah dengan mengaduk bahan-bahan tersebut sambil memantau kelembanbannya.
2. Dua minggu pasca pencampuran bahan sampah organik, pelatih dari kampus IST Yogyakarta akan meninjau sejauh mana perkembangan proses penguraian sampah organik menjadi kompos. Lama waktu penguraian sampah organik menjadi kompos 1- 1,5 bulan.
Hadirnya bank sampah juga memberikan manfaat positif untuk manusia, antara lain: membantu pengolahan sampah secara konsisten di sekolah menjadi lebih baik, Ikut berpartisipasi untuk melestarikan lingkungan karena membantu dalam memecahkan masalah sampah, membangun kesadaran warga sekolah secara lebih luas terkait sampah dan permasalahan lingkungan, terbiasa memanfaatkan sampah yang sudah dikumpulkan agar bisa melakukan daur ulang, belajar memanfaatkan barang-barang bekas menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomis. SMK Negeri 6 Yogyakarta menggunakan aplikasi bank sampah yang bisa digunakan untuk menjaga lingkungan semakin bersih, yakni: E-Bank Sampah, Mallsampah dan Rapel. Ketika konsisten dilakukan, maka akan ada banyak orang yang bisa merasakan berbagai manfaat dari bank sampah.